Gusi Berdarah Berulang? Pahami Periodontitis dan Kapan Perlu Periksa ke Dokter

Heart Wellness  Heartology Cardiovascular Hospital

14 menit baca
Tim Editor Heartology Tim Editor Heartology

Artikel ini membantu pembaca memahami periodontitis secara tenang dan akurat, mulai dari penyebab, gejala, perbedaan dengan gingivitis, pengobatan, hingga hubungan infeksi gusi dengan kesehatan tubuh menyeluruh.

RINGKASAN KLINIS

Ringkasan Klinis

Periodontitis adalah penyakit gusi kronis akibat peradangan dan infeksi pada jaringan penyangga gigi. Kondisi ini dapat menyebabkan gusi berdarah, bau mulut, gusi turun, gigi goyang, hingga kerusakan tulang penyangga gigi. Periodontitis juga berkaitan dengan faktor risiko kesehatan menyeluruh, termasuk diabetes, merokok, obesitas, dan penyakit jantung.

Gusi berdarah saat menyikat gigi sering dianggap sepele. Apalagi jika rutinitas sedang padat, keluhan seperti gusi bengkak, bau mulut, atau gigi yang mulai terasa goyang mudah sekali ditunda pemeriksaannya. Namun, bila keluhan ini terjadi berulang, penyebabnya bisa lebih dari iritasi ringan. Salah satu kondisi yang perlu dikenali adalah periodontitis.

Periodontitis adalah penyakit gusi kronis yang terjadi ketika peradangan dan infeksi mulai merusak jaringan penyangga gigi. Kondisi ini biasanya berkembang dari penumpukan plak dan karang gigi, lalu dapat memengaruhi gusi, jaringan pengikat gigi, hingga tulang yang menjaga gigi tetap kokoh. Kemenkes menjelaskan bahwa periodontitis dapat bermula dari gingivitis atau radang gusi yang tidak tertangani, kemudian berkembang menjadi kerusakan jaringan sekitar gusi dan gigi.

Bagi orang yang peduli pada kesehatan jantung, topik ini penting karena mulut bukan bagian tubuh yang terpisah. Penyakit gusi kronis memiliki beberapa faktor risiko yang juga sering berkaitan dengan kesehatan kardiovaskular, seperti merokok, diabetes, obesitas, usia, dan peradangan kronis. Namun, hubungan ini perlu dipahami dengan tenang: periodontitis berkaitan dengan penyakit kardiovaskular, tetapi bukan berarti setiap orang dengan periodontitis pasti mengalami penyakit jantung. American Heart Association menegaskan bahwa bukti terbaru mendukung adanya asosiasi antara penyakit periodontal dan penyakit kardiovaskular aterosklerotik, tetapi hubungan sebab-akibat belum dapat dipastikan secara final.

Artikel ini membahas apa itu periodontitis, gejala yang perlu diperhatikan, penyebab, faktor risiko, komplikasi, cara pencegahan, pilihan pengobatan, serta kapan perlu berkonsultasi ke dokter gigi dan kapan evaluasi risiko jantung dapat dipertimbangkan.

Apa Itu Periodontitis?

Periodontitis adalah penyakit pada jaringan periodontal, yaitu jaringan yang menopang dan menjaga gigi tetap stabil. Jaringan ini mencakup gusi, ligamen periodontal, dan tulang di sekitar akar gigi. Ketika bakteri menumpuk di sekitar gigi dan gusi, tubuh merespons dengan peradangan. Jika proses ini berlangsung lama, peradangan dapat merusak jaringan penyangga gigi.

Pada tahap awal, keluhannya dapat terlihat seperti radang gusi biasa. Namun, pada periodontitis, masalahnya sudah lebih dalam. Tidak hanya gusi yang meradang, tetapi juga struktur yang menjaga gigi tetap kuat.

CDC menjelaskan bahwa penyakit periodontal melibatkan peradangan dan infeksi pada jaringan gusi dan tulang yang menopang gigi. Gingivitis masih dapat dicegah dan ditangani, sedangkan periodontitis yang sudah melibatkan kehilangan tulang tidak dapat dikembalikan sepenuhnya, tetapi dapat diperlambat dan dikelola dengan perawatan profesional.

Perbedaan Gingivitis dan Periodontitis

Gingivitis adalah peradangan gusi tahap awal. Biasanya, kondisi ini ditandai dengan gusi merah, bengkak, atau mudah berdarah. Pada tahap ini, jaringan penyangga gigi yang lebih dalam belum tentu rusak.

Sebaliknya, periodontitis adalah tahap yang lebih lanjut. Peradangan sudah memengaruhi jaringan penyangga gigi dan dapat disertai pembentukan kantong gusi, gusi turun, tulang penyangga berkurang, gigi goyang, atau kehilangan gigi pada kondisi berat.

Aspek Gingivitis Periodontitis
Area utama Gusi Gusi, ligamen periodontal, dan tulang penyangga
Gejala khas Gusi merah, bengkak, mudah berdarah Gusi berdarah, gusi turun, bau mulut, gigi goyang
Tingkat kerusakan Umumnya belum melibatkan kehilangan tulang Dapat melibatkan kerusakan jaringan dan tulang
Peluang perbaikan Lebih mudah dikendalikan bila ditangani dini Dapat dikelola, tetapi kerusakan tertentu mungkin tidak pulih sepenuhnya
Langkah utama Kebersihan mulut dan pembersihan profesional Pemeriksaan dokter gigi/periodonsia dan perawatan sesuai tingkat keparahan

Sederhananya, gingivitis adalah alarm awal. Periodontitis adalah tanda bahwa masalah sudah masuk ke jaringan yang lebih dalam.

Infografik Gingivitis vs Periodontitis dari Heartology yang menunjukkan perbedaan radang gusi awal dan penyakit gusi lanjut, termasuk gusi merah dan bengkak, kantung gusi lebih dalam, penurunan gusi, berkurangnya tulang penyangga, serta perlunya perawatan dini dan pemeriksaan dokter gigi.

Gambar: Infografik Heartology yang membandingkan gingivitis dan periodontitis, mulai dari lokasi peradangan, kondisi gusi, keterlibatan tulang penyangga, hingga pentingnya perawatan dini untuk mencegah kerusakan jaringan penyangga gigi.

Penyebab Periodontitis

Penyebab utama periodontitis biasanya berawal dari plak yang tidak dibersihkan dengan baik. Namun, prosesnya tidak terjadi dalam semalam. Karena itu, memahami tahapannya dapat membantu Anda mencegah kerusakan sebelum menjadi lebih berat.

Plak dan Karang Gigi

Plak adalah lapisan lengket yang terbentuk dari bakteri, sisa makanan, dan air liur di permukaan gigi. Bila plak tidak dibersihkan secara rutin, plak dapat mengeras menjadi karang gigi. Berbeda dari plak, karang gigi tidak bisa dibersihkan hanya dengan sikat gigi biasa.

National Institute of Dental and Craniofacial Research menjelaskan bahwa plak yang tidak dibersihkan setiap hari dapat mengeras menjadi tartar atau karang gigi, dan hanya pembersihan profesional oleh dokter gigi atau tenaga kesehatan gigi yang dapat menghilangkannya.

Selanjutnya, karang gigi menjadi tempat bakteri bertahan di sekitar garis gusi. Semakin lama dibiarkan, bakteri dapat memicu peradangan gusi yang lebih dalam.

Radang Gusi yang Tidak Tertangani

Gingivitis yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi periodontitis. Prosesnya dapat dipahami seperti rantai berikut:

  • Plak menumpuk di permukaan gigi.
  • Plak mengeras menjadi karang gigi.
  • Gusi mengalami peradangan.
  • Terbentuk celah atau kantong antara gusi dan gigi.
  • Bakteri masuk lebih dalam dan memperburuk peradangan.
  • Jaringan serta tulang penyangga gigi mulai rusak.

Celah antara gusi dan gigi dapat membuat bakteri menginfeksi lebih dalam sehingga merusak jaringan dan tulang di dalam gusi.

Karena itu, pencegahan paling efektif adalah menangani masalah sejak tanda awal, bukan menunggu sampai gigi terasa goyang.

Infografik Heartology tentang perkembangan plak menjadi periodontitis yang menampilkan tahapan plak, karang gigi, gingivitis, periodontitis, dan kerusakan jaringan penyangga gigi.

Gambar: Infografik Gingivitis vs Periodontitis dari Heartology yang menunjukkan perbedaan radang gusi awal dan penyakit gusi lanjut, termasuk gusi merah dan bengkak, kantung gusi lebih dalam, penurunan gusi, berkurangnya tulang penyangga, serta perlunya perawatan dini dan pemeriksaan dokter gigi.

Gejala Periodontitis

Gejala periodontitis bisa muncul perlahan. Sering kali, seseorang baru menyadari masalah ketika melihat darah saat menyikat gigi, merasakan bau mulut yang menetap, atau mendapati gusi tampak lebih turun dari biasanya.

Namun, satu gejala saja belum tentu berarti periodontitis. Pemeriksaan dokter gigi tetap diperlukan untuk memastikan penyebabnya.

Gejala Awal

Beberapa gejala awal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Gusi mudah berdarah saat menyikat gigi atau membersihkan sela gigi.
  • Gusi terlihat merah, bengkak, atau terasa nyeri.
  • Bau mulut menetap meski sudah menjaga kebersihan mulut.
  • Gusi terasa sensitif saat makan atau saat disentuh.
  • Mulut terasa tidak nyaman tanpa penyebab yang jelas.

Kemenkes mencantumkan gejala periodontitis seperti gusi bengkak dan mudah berdarah, napas berbau tidak sedap, gusi terasa nyeri, gigi sensitif, serta nyeri saat mengunyah.

Gejala Lanjut

Pada tahap lanjut, periodontitis dapat mengubah struktur gusi dan posisi gigi. Gusi dapat turun sehingga gigi tampak lebih panjang. Gigi juga dapat terasa renggang, berubah posisi, atau mulai goyang.

Gejala lanjut dapat meliputi:

  • Gigi goyang atau posisi gigi terasa berubah.
  • Gusi turun sehingga gigi terlihat lebih panjang.
  • Nyeri saat mengunyah atau menggigit.
  • Gigi terasa sensitif.
  • Nanah di sekitar batas gigi dan gusi.
  • Gigi tanggal pada kondisi lanjut.

Penyakit gusi dapat menyebabkan gusi merah, bengkak, nyeri atau berdarah, gusi menarik diri dari gigi, gigi longgar atau sensitif, nyeri saat mengunyah, dan bau mulut menetap.

Sebenarnya, penyakit gusi tidak selalu menimbulkan nyeri berat sejak awal. Karena itu, gejala kecil yang berulang tetap perlu diperhatikan.

Periodontitis dan Kesehatan Jantung

Periodontitis dan kesehatan jantung memiliki hubungan yang semakin banyak diteliti. Namun, pembahasannya harus tepat. Tujuannya bukan membuat pembaca takut, melainkan membantu pembaca memahami bahwa kesehatan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Hubungan Peradangan Gusi dan Tubuh

Mulut adalah pintu masuk penting bagi tubuh. Ketika terjadi peradangan kronis pada gusi, tubuh terus merespons iritasi dan infeksi. Pada sebagian orang, terutama yang memiliki faktor risiko lain, proses ini dapat berkaitan dengan respons peradangan yang lebih luas.

Dalam konteks kesehatan jantung, periodontitis tidak boleh dipahami secara sensasional. Gusi berdarah bukan berarti seseorang pasti memiliki penyakit jantung. Namun, periodontitis dapat menjadi pengingat bahwa tubuh perlu dilihat secara menyeluruh, terutama bila ada faktor risiko kardiovaskular lain.

Periodontitis dan Penyakit Kardiovaskular

Penyakit periodontal berasosiasi dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik. Hubungan ini dapat dipengaruhi oleh faktor risiko bersama seperti usia, merokok, dan obesitas. Selain itu, mekanisme biologis yang sedang diteliti meliputi bakteri dari kantong periodontal yang dapat masuk ke aliran darah pada kondisi tertentu, peradangan sistemik tingkat rendah, serta dampak pada pembuluh darah. Namun demikian, hubungan sebab-akibat belum terbukti, dan masih diperlukan studi lanjutan untuk mengetahui apakah perawatan periodontal dapat memperbaiki outcome kardiovaskular.

Infografis medis Heartology berjudul “Kesehatan Gusi dan Kesehatan Jantung” yang menunjukkan hubungan antara peradangan gusi, respons peradangan sistemik, kesehatan kardiovaskular, serta faktor risiko bersama seperti merokok, diabetes, berat badan, usia, dan tekanan darah.

Gambar: Infografis Heartology yang menjelaskan hubungan kesehatan gusi dengan kesehatan jantung melalui peradangan sistemik dan faktor risiko bersama seperti merokok, diabetes, berat badan, usia, dan tekanan darah.

Bagi Anda yang memiliki diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, atau riwayat keluarga penyakit jantung, pesan praktisnya jelas: jangan hanya melihat keluhan gusi sebagai masalah lokal. Jadikan keluhan berulang sebagai kesempatan untuk memperbaiki kebersihan mulut, berkonsultasi ke dokter gigi, dan meninjau kembali faktor risiko jantung.

Baca Juga:

Catatan tentang Endokarditis

Endokarditis infektif adalah infeksi pada lapisan dalam jantung atau katup jantung. Kondisi ini berbeda dari penyakit jantung koroner.

AHA menekankan bahwa kebersihan mulut dan perawatan gigi rutin adalah cara penting untuk membantu menurunkan risiko endokarditis infektif yang berkaitan dengan bakteri mulut, terutama pada kelompok pasien jantung tertentu. AHA juga menyebut hanya kelompok pasien jantung berisiko tinggi tertentu yang direkomendasikan mendapat antibiotik pencegahan sebelum prosedur gigi invasif tertentu.

Jadi, tidak semua orang memerlukan antibiotik sebelum tindakan gigi. Pasien dengan riwayat katup jantung prostetik, endokarditis sebelumnya, penyakit jantung bawaan tertentu, transplantasi jantung, atau tindakan jantung tertentu sebaiknya berdiskusi dengan dokter gigi dan dokter jantung sebelum tindakan gigi invasif.

Faktor Risiko Periodontitis

Tidak semua orang memiliki risiko periodontitis yang sama. Beberapa faktor berkaitan dengan kebiasaan harian, sedangkan faktor lain berkaitan dengan kondisi medis, usia, atau riwayat keluarga.

Faktor Gaya Hidup

Beberapa kebiasaan harian dapat meningkatkan risiko periodontitis, terutama bila berlangsung lama. Misalnya, kebersihan mulut yang kurang konsisten membuat plak lebih mudah menumpuk. Selain itu, merokok dapat memengaruhi kesehatan jaringan gusi dan respons penyembuhan.

Faktor gaya hidup yang perlu diperhatikan:

  • Kebersihan gigi dan mulut yang kurang teratur.
  • Merokok, mengunyah tembakau, atau menggunakan vape.
  • Jarang membersihkan sela gigi.
  • Pola makan yang kurang seimbang.
  • Stres yang membuat perawatan diri terabaikan.

Centers for Disease Control and Prevention mencantumkan beberapa faktor yang berkaitan dengan penyakit gusi, antara lain merokok, diabetes, kebersihan mulut yang kurang, obat dengan efek samping pada mulut, stres, genetik, kondisi sistemik, perubahan hormonal, nutrisi buruk, dan obesitas.

Faktor Medis

Kondisi medis tertentu dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami masalah gusi atau memperlambat pemulihan. Diabetes adalah salah satu faktor yang paling sering dibahas karena berkaitan dengan respons tubuh terhadap infeksi dan proses penyembuhan. Selain itu, obesitas, kondisi yang menurunkan daya tahan tubuh, serta obat tertentu yang menyebabkan mulut kering juga dapat berperan.

Jika Anda memiliki penyakit kronis atau rutin minum obat tertentu, sampaikan informasi tersebut kepada dokter gigi. Riwayat kesehatan membantu dokter menentukan pemeriksaan dan tindakan yang lebih aman.

Faktor Usia dan Genetik

Risiko periodontitis cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Meski begitu, gigi goyang pada usia dewasa atau lanjut bukan sesuatu yang harus dianggap normal begitu saja.

Riwayat keluarga penyakit gusi juga dapat berperan. Karena itu, orang dengan keluarga yang sering mengalami gigi goyang atau kehilangan gigi akibat penyakit gusi perlu lebih disiplin melakukan pemeriksaan rutin.

Komplikasi Periodontitis

Periodontitis yang tidak tertangani dapat berdampak pada gigi, gusi, dan kualitas hidup sehari-hari. Bahkan, pada orang dengan penyakit kronis, kondisi ini perlu dilihat sebagai bagian dari kesehatan tubuh yang lebih luas.

Kerusakan Jaringan Penyangga Gigi

Komplikasi utama periodontitis terjadi pada struktur yang menopang gigi. Kantong antara gusi dan gigi dapat semakin dalam, gusi dapat turun, dan tulang di sekitar akar gigi dapat berkurang. Ketika fondasi ini melemah, gigi menjadi tidak lagi stabil.

Centers for Disease Control and Prevention menyebut periodontitis sebagai kondisi inflamasi kronis yang dapat menyebabkan kerusakan ringan hingga berat pada jaringan pendukung gigi, dengan kehilangan tulang di sekitar gigi sebagai salah satu ciri utamanya.

Kehilangan Gigi

Pada tahap lanjut, periodontitis dapat menyebabkan kehilangan gigi. Dampaknya bukan hanya estetika. Gigi yang hilang dapat mengganggu kemampuan mengunyah, pilihan makanan, cara berbicara, dan rasa percaya diri.

Penyakit gusi yang tidak ditangani dapat menyebar ke tulang sekitar gusi, membuat proses mengunyah terasa nyeri, dan pada kondisi berat membuat gigi menjadi longgar atau perlu dicabut.

Kaitan dengan Kondisi Sistemik

Periodontitis juga perlu diperhatikan pada orang dengan kondisi kronis seperti diabetes. CDC menyebut periodontitis yang tidak ditangani dapat memperburuk kondisi kronis tertentu, termasuk diabetes.

Untuk kesehatan jantung, posisi yang paling aman dan akurat adalah menyebutnya sebagai hubungan atau asosiasi, bukan sebab-akibat langsung. Dengan demikian, pembaca mendapatkan informasi yang serius, tetapi tidak dibuat panik.

Pengobatan Periodontitis

Pengobatan periodontitis bertujuan mengendalikan infeksi, mengurangi peradangan, membersihkan plak dan karang gigi, serta mencegah kerusakan lebih lanjut. Jenis perawatan bergantung pada tingkat keparahan kondisi.

Scaling dan Root Planing

Pada banyak kasus, dokter gigi dapat merekomendasikan pembersihan mendalam. Scaling bertujuan membersihkan plak dan karang gigi dari permukaan gigi serta area sekitar gusi. Root planing membantu membersihkan dan menghaluskan permukaan akar gigi agar bakteri lebih sulit menempel kembali.

Scaling and root planing atau deep cleaning sebagai salah satu prosedur non-bedah yang dapat digunakan dalam perawatan periodontitis. Perawatan juga dapat melibatkan obat yang diresepkan atau prosedur bedah pada kondisi tertentu.

Obat atau Tindakan Lanjutan

Pada kondisi tertentu, dokter dapat meresepkan obat kumur, obat yang ditempatkan di area gusi, atau antibiotik. Namun, antibiotik tidak boleh digunakan tanpa pemeriksaan dan arahan dokter.

Bila kerusakan sudah berat, dokter gigi dapat mempertimbangkan tindakan lanjutan atau merujuk ke periodonsia, yaitu dokter gigi spesialis yang menangani penyakit jaringan penyangga gigi. Dokter gigi dapat merujuk pasien ke periodontist bila diperlukan.

Apakah Periodontitis Bisa Sembuh Total?

Periodontitis perlu dipahami sebagai kondisi yang dapat dikendalikan. Infeksi dan peradangan dapat dikelola dengan perawatan yang tepat, tetapi kerusakan jaringan atau tulang tertentu mungkin tidak sepenuhnya kembali seperti semula.

Karena itu, tujuan pengobatan bukan hanya “menghilangkan gejala”, tetapi juga menghentikan perkembangan penyakit, menjaga gigi yang masih sehat, dan mencegah kerusakan lebih lanjut.

Cara Mencegah Periodontitis

Pencegahan periodontitis dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten. Memang, menyikat gigi dan membersihkan sela gigi terdengar dasar. Namun, kebiasaan inilah yang membantu mencegah plak berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Kebiasaan Harian untuk Menjaga Gusi

Langkah yang dapat dilakukan:

  • Sikat gigi secara teratur dengan teknik yang lembut.
  • Bersihkan sela gigi menggunakan dental floss, sikat interdental, atau alat yang direkomendasikan dokter gigi.
  • Perhatikan gusi berdarah yang terjadi berulang.
  • Jangan hanya mengganti pasta gigi atau obat kumur tanpa mencari penyebab keluhan.
  • Hindari rokok dan penggunaan tembakau.
  • Gunakan obat kumur sebagai pelengkap bila sesuai rekomendasi, bukan pengganti pemeriksaan.

Sangat direkomendasikan menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, membersihkan sela gigi secara rutin, mengunjungi dokter gigi untuk pemeriksaan dan pembersihan profesional, serta berhenti merokok.

Pemeriksaan Gigi Rutin

Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi masalah sebelum keluhan terasa berat. Dokter gigi dapat memeriksa tanda peradangan, kedalaman kantong gusi, karang gigi, serta kemungkinan kerusakan tulang bila diperlukan.

Pemeriksaan gigi setidaknya setahun sekali, atau lebih sering bila direkomendasikan tenaga kesehatan, sebagai bagian dari pencegahan dan pengelolaan penyakit gusi.

Kontrol Faktor Risiko

Menjaga gusi sehat juga perlu didukung kesehatan tubuh yang baik. Kontrol gula darah pada diabetes, menjaga berat badan, berhenti merokok, mengelola stres, dan menerapkan pola makan seimbang dapat membantu mendukung kesehatan gusi sekaligus kesehatan jantung.

Kemenkes juga mencantumkan pencegahan periodontitis seperti menyikat gigi rutin, membersihkan sela gigi, menghindari rokok dan vape, mengelola stres, menerapkan pola makan sehat, kontrol rutin bila diabetes, serta menjaga berat badan ideal.

Baca Juga:

Kapan Harus Konsultasi?

Keluhan gusi yang berulang sebaiknya tidak hanya dipantau sendiri. Pemeriksaan membantu memastikan apakah keluhan berkaitan dengan gingivitis, periodontitis, teknik menyikat gigi, efek obat, atau kondisi lain.

Kapan Perlu ke Dokter Gigi?

Dokter gigi atau periodonsia adalah rujukan utama untuk diagnosis dan perawatan periodontitis. Pemeriksaan perlu dipertimbangkan bila keluhan muncul berulang, bertambah berat, atau mulai mengganggu kenyamanan makan dan berbicara.

Segera jadwalkan pemeriksaan dokter gigi bila mengalami:

  • Gusi berdarah berulang.
  • Gusi bengkak, merah, atau nyeri.
  • Bau mulut menetap.
  • Gigi goyang atau posisi gigi berubah.
  • Gusi turun sehingga gigi tampak lebih panjang.
  • Nyeri saat mengunyah.
  • Nanah di sekitar gusi dan gigi.

Kapan Perlu Evaluasi Jantung?

Evaluasi jantung tidak menggantikan pemeriksaan gigi. Namun, evaluasi kardiovaskular dapat dipertimbangkan bila Anda memiliki faktor risiko seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, riwayat keluarga penyakit jantung, atau hasil medical check-up yang perlu ditindaklanjuti.

Evaluasi juga penting bila muncul keluhan yang mengarah ke masalah jantung, seperti:

  • nyeri dada,
  • sesak napas,
  • jantung berdebar,
  • mudah lelah yang tidak biasa,
  • pingsan,
  • keluhan yang muncul saat aktivitas.

Pada kondisi seperti nyeri dada berat, sesak berat, keringat dingin, pingsan, atau kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, segera cari bantuan medis darurat.

Infografis medis Heartology berjudul “Cegah Periodontitis, Dukung Jantung Sehat” yang menampilkan checklist kebiasaan menjaga kesehatan gusi dan jantung, termasuk sikat gigi teratur, bersihkan sela gigi, rutin periksa ke dokter gigi, berhenti merokok, kontrol gula darah, jaga berat badan sehat, kelola stres, dan cek jantung bila berisiko.

Gambar: Infografis Heartology tentang langkah sederhana untuk mencegah periodontitis sekaligus mendukung kesehatan jantung, mulai dari sikat gigi teratur, membersihkan sela gigi, berhenti merokok, kontrol gula darah, hingga cek jantung bila berisiko.

Kesimpulan

Periodontitis adalah penyakit gusi kronis yang perlu dikenali sejak awal. Gejala seperti gusi berdarah, bau mulut menetap, gusi turun, nyeri saat mengunyah, dan gigi goyang tidak sebaiknya diabaikan bila terjadi berulang. Pemeriksaan dokter gigi tetap menjadi langkah utama untuk memastikan penyebab dan menentukan perawatan yang tepat.

Namun, kesehatan mulut juga dapat menjadi bagian dari gambaran kesehatan tubuh yang lebih luas. Bagi orang dengan diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, kebiasaan merokok, atau riwayat keluarga penyakit jantung, keluhan gusi berulang dapat menjadi pengingat untuk lebih proaktif menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Menjaga kesehatan jantung bukan hanya tentang menunggu munculnya gejala. Ini adalah perjalanan pencegahan yang mencakup gaya hidup, pemeriksaan rutin, pengelolaan faktor risiko, dan kepedulian pada sinyal kecil dari tubuh, termasuk dari gusi dan mulut. Dengan memahami periodontitis sejak dini, Anda dapat mengambil langkah yang lebih tenang, tepat, dan terarah untuk menjaga kesehatan gusi serta mendukung jantung tetap sehat.

Tentang Heartology

Heartology Cardiovascular Hospital adalah rumah sakit kardiovaskular yang merupakan salah satu unit bisnis Astra International yang menyediakan solusi komprehensif dan terintegrasi untuk penanganan penyakit jantung dan pembuluh darah terbaik.

Kontak Kami

No. Tlp: 1500 258

Alamat: Jl. Birah III No. 4, Rawa Barat, Kby. Baru, Jakarta Selatan, DKI Jakarta, Indonesia